Ruangan pengambilan kartu vaksin

Vaksin Pertamaku

Berawal dari Bunda yang memberitahuku kalau aku harus suntik vaksin di sekolah.

“Kak, hari Sabtu besok Kakak suntik vaksin ya.” ucap Bunda.

Aku kaget saat itu, karena aku sama sekali belum pernah vaksin apapun. Bahkan suntik dari sekolah pun aku tidak ikut. Ditambah aku masih takut disuntik😅. Makanya aku kaget saat dapat informasi vaksin dari sekolah. Tapi aku harus ikut, karena umurku sudah 12 tahun.

Di hari H suntik vaksin aku tiba-tiba pusing, dan tidak tahu apa penyebabnya. Jadi Bunda bilang aku jangan vaksin dulu. Yes, aku senang karena aku tidak jadi vaksin hari itu. Tapi ternyata aku tetap harus vaksin juga di tempat lain. Aku belum tahu akan vaksin dimana.

Sabtu 6 Agustus 2021

“Kak, vaksinnya sekarang aja apa? Kakak masih pusing gak?” tanya Bunda.

“Ayo, tapi kakak pusing dikit, gak apa-apa?” jawabku ragu.

“Bunda belum tahu, tapi kita nanti tanya aja dulu sama dokternya.” ucap Bunda.

“Kakak gimana sekolahnya?” tanyaku. Aku masih mencari cara untuk menghindar untuk vaksin.

“Sekolah aja dulu, nanti izin.” jawab Bunda.

Mungkin aku memang harus vaksin hari ini. Aku sekolah hanya sampai jam sepuluh, karena jam sepuluh aku dan Bunda berangkat vaksin. Jam 7:30 Bunda berangkat ke SDN 23 untuk mendaftar dan mengambil nomor urut. Sementara aku menunggu dirumah sambil belajar. Kami vaksin di SDN 23 Utan Kayu Selatan. Untuk dewasa cukup membawa fotocopy KTP, sedangkan anak-anak membawa KK. Bunda menyuruhku untuk membawa ponsel dan earphone untuk zoom pelajaran, kalau sempat. Setelah itu kami berangkat ke lokasi vaksin. Kami berangkat sekitar jam sepuluh-an.

Sesampainya di lokasi, kami duduk di bangku yang sudah disediakan di lapangan untuk menunggu dipanggilnya nomor urut. Setelah mendapatkan kursi, kami menunggu nomor urut kami dipanggil. Tapi sejak aku datang tidak ada satupun nomor urut yang disebutkan. Sambil menunggu aku mencoba masuk ke zoom pelajaran terakhir, yaitu pelajaran IPA. Tapi setelah kucoba berulang kali tetap tidak bisa. Padahal sudah tethering lewat ponsel Bunda. Akhirnya aku tidak jadi zoom. 

“Bunda, kok lama banget sih?” tanyaku.

“Bunda juga tidak tahu Kak.” jawab Bunda.

Tadinya aku mengira kalau antrian vaksin di dalam masih banyak. Tapi ternyata tidak, kami menunggu lama karena printernya sedang bermasalah. Jadi menunggunya cukup lama. Beberapa saat kemudian akhirnya printernya bisa diperbaiki. Aku dan Bunda mendapat nomor urut 106 dan 107. Mengingat aku yang masih takut dengan jarum suntik, jadi aku memilih nomor 107 supaya Bunda yang lebih dulu divaksin. 

Setelah dipanggil kami berjalan ke koridor dan duduk sambil menyerahkan nomor urut. Lalu petugas mengisi formulir dan kami disuruh menulis nama dan NIS. Setelah itu kami masuk ke ruangan suntik. Sambil membawa kertas formulir yang sudah diisi oleh petugas, dan nomor yang sudah di staples. Di ruangan itu kami ditensi dan menulis nama lagi. Setelah itu baru kami menuju meja vaksin. Aku meminta Bunda dulu yang divaksin. Setelah Bunda selesai baru lah aku duduk di kursi vaksin. Dokter yang melayani aku dan Bunda laki-laki. Setelah aku siap, aku disuntik vaksin untuk pertama kalinya. Ternyata tidak sakit.

Setelah vaksin kami menuju ruangan print. Di ruangan ini lah kami menunggu kartu vaksinasi. Beberapa menit kemudian kami dipanggil juga untuk mengambil kartu vaksinasi. Setelah mendapatkan kartu vaksinasi aku menunggu Bunda yang sedang memotret kartu vaksinasi. Setelah itu barulah kami pulang ke rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Logo anbita

Anbita

Hai, aku narablog cilik. Blog Anbita berisi tulisanku tentang cerita dan pengalaman.

Baca Juga

Bukuku

© 2021 Anbita | Hak cipta dilindungi hukum