Besok liburan sekolahku dimulai. Keluarga kecilku sudah merencanakan tempat liburan. Perkenalkan namaku Zhila, aku mempunyai satu adik laki-laki bernama Zeno. Kami sebentar lagi akan menikmati liburan sekolah yang sepertinya seru. Mau tahu kenapa serunya? Ikuti cerita ini sampai selesai ya ….

 

“Zhila, Zeno ayo bangun.” seru Mama dari luar.

“Hoam iya Ma.” jawabku.

Aku melihat Zeno di kasurnya. Ternyata dia masih tidur nyenyak. Aku berusaha untuk membangunkannya.
“Zeno ayo bangun ….” panggilku sambil menggoyang-goyang tubuhnya. 

“Iya kak” jawabnya.

Kami bergegas mandi dan langsung sarapan. Hari ini hari terakhir kami sekolah sebelum liburan. Papa mengambil cuti beberapa hari agar kami bisa liburan. Selesai sarapan Papa sudah memanaskan mobil. Aku dan Zeno pamit kepada Mama.

“Ma, Zhila berangkat sekolah ya” ucapku sambil mengecup punggung tangan Mama.
“Zeno berangkat juga ya Ma” kata Zeno yang juga mengecup tangan Mama.

Aku, Zeno, dan Papa berangkat. Di sekolah aku belajar dengan ceria. Hingga, tak terasa waktu pulang telah tiba. Papa sudah datang untuk menjemput aku dan Zeno. Biasanya Mama yang menjemput, tapi karena Papa cuti jadi Papa yang menjemput. 

 

Sesampainya di rumah, aku dan Zeno langsung mengganti pakaian. Mama memanggil ku dan menyuruh untuk berkumpul di ruang keluarga. Aku segera berjalan dengan kecepatan sedang. Di ruangan keluarga, Mama, Papa, dan Zenoi sudah berkumpul. 

“Jadi begini, kan Zhila dan Zeno liburan sekolah. Jadi, Papa dan Mama ingin mengajak kalian berkemah,” ucap Papa.
“Yeeyyy ….” Sorakkan keluar dari mulutku dan Zeno

“Berangkat nya kapan Pa?” tanyaku.

“Besok. Jadi, sekarang kalian harus siapkan semua yang akan dibawa ya” jawab Papa.

“Siap Pa” jawabku.

“Bawa baju berapa Pa?” tanya Zeno.

“Kita akan berkemah tiga hari. Jadi, bawa bajunya berapa ya Ma?” Papa malah bertanya ke Mama.

“Hmmm …. Empat pasang saja.” jawab Mama.

Aku menyiapkan satu tas ukuran sedang dan mulai memasukkan pakaian yang berada di dalam plastik. Tidak ketinggalan alat mandi, handuk, jaket, kantong tidur, kaus kaki, sarung tangan, dan kupluk. Kantong tidurnya ternyata tidak muat masuk tas, jadi akan kutenteng saja. Zeno membawa perlengkapan yang sama denganku. Hari sudah malam waktunya untuk tidur.

 

Pagi yang cerah membuatku ceria. Sebelum berangkat semua harus sarapan. Papa sudah memasukkan tenda dan empat tas ke dalam bagasi mobil. Semua sudah siap, kami semua masuk mobil dan berangkat. Kami berkemah di gunung salak. Sesampainya disana, Papa memarkirkan mobil dan memberikan tas dan kantong tidur kepadaku dan Zeno. Mama juga membawa barang-barang lain. Alat masak sudah Mama siapkan sejak kemarin siang. Takut lupa kata mama saat kutanya. Tenda sudah Papa dirikan. Aku dan Zeno merapikan barang-barang bawaan. Papa mendirikan dua tenda satu tenda untuk Mama dan aku. Satu tenda lagi untuk Papa dan Zeno. Papa membuat api untuk Mama memasak. Sedangkan aku dan Zeno bermain kejar-kejaran di sekitar tenda. Ternyata, orang yang akan berkemah tidak sedikit. Ada beberapa tenda didirikan agak jauh dari tenda keluargaku. Mama sudah selesai memasak. Waktunya makan siang. 

 

Setelah makan siang, kami sholat berjamaah di atas tikar yang dibawa Papa kemarin sore. Setelah itu, Aku, Mama dan Zeno tidur siang agar nanti malam bisa ikut acara bakar jagung. Papa mencari kayu bakar untuk persediaan nanti. Menjelang sore Mama mulai memasak untuk makan nanti. Aku dan Zeno dibangunkan saat masuk waktu Asar. Kami sholat berjamaah. Setelah sholat, kami makan makanan yang dimasak Mama. Tak terasa, waktu magrib telah tiba. Selesai sholat, kami membakar jagung yang sudah ditusukkan tusuk sate oleh Mama. Setelah bakar-bakar selesai, kami masuk ke tenda untuk tidur.

 

Tak terasa, sudah tiga hari keluargaku berkemah. Hari ini waktunya kami pulang ke rumah. Aku sangat senang sekali bisa berkemah di alam bersama keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© 2021 Anbita | Hak cipta dilindungi hukum