Niit… Suara pendingin ruangan di kamarku dimatikan oleh Bundaku, aku terbangun dari tidur. Aku membuka pintu dan melihat jam dinding yang menunjukkan jam 04:30.

“Masih belum Subuh,” ucapku dalam hati.

Tiba-tiba… 

“Meong…” itu suara kucingku yang bernama Chiko.

Dia berjalan menuju pintu kamarku. Chiko selalu rajin membangunkanku di pagi hari. Kalau aku bilang sih dia membangunkan supaya aku bangun lalu memberinya makan. Atau, kalau bukan ingin diberi makan pasti ingin digelitik di bagian lehernya. Aku membuka pintu lebih lebar, agar udara di kamar tidak pengap akibat pendingin ruangan dimatikan. Chiko tidak membuang kesempatan, dengan segera dia melompat ke kasurku dan duduk disebelahku. Tak lama kemudian, adikku terbangun dari tidurnya. Aku dan adikku memang tidur satu kamar, sedangkan dedek satu kamar dengan ayah dan bundaku. Tiba-tiba suara azan terdengar, aku langsung  keluar kamar untuk sholat berjamaah dengan ayah dan adikku. 

 

Selesai sholat, dedek keluar dari kamarku. Mungkin, sewaktu aku sedang sholat dedek terbangun lalu masuk kamarku dan bermain dengan Chiko. Benar saja, Chiko masih ada dikamarku. Tak lama setelah aku dan adik masuk kamar, ayahku datang. Beliau membawa ponsel di tangannya. Tiba-tiba terdengar lantunan murottal surat Al-Muddatsir. Ternyata murottal itu berasal dari ponsel milik ayah.

 

Ayah kemarin sudah mengajak aku, adik, dedek, dan Bunda bersepeda. Aku senang sekali mendengarnya. Keadaan pandemi tidak menjadi penghalang bagi keluargaku untuk bersepeda bersama. Seperti pagi ini, walau kami belum tahu kemana tujuan bersepeda tapi kami tetap semangat untuk berolahraga. 

 

“Jadi bersepeda tidak?” Tanya ayahku.

“Jadi…” Jawabku, adik, dan dedek serempak.

Dedek walau umurnya masih lima tahun tapi dia ikut semangat untuk bersepeda. Dedek sudah bisa roda dua, tapi dia masih geal-geol saat mengendarainya. Aku turut menyemangati dedek agar dia cepat mahir dalam bersepeda. Agar Bundaku tidak perlu memboncengnya lagi. Karena selama ini kalau bersepeda, Bunda memang selalu membonceng dedek. 

 

Bunda tiba-tiba datang.

“Bunda tidak bersepeda?,” tanyaku, karena aku melihat bunda sudah mandi.

Biasanya kalau ingin bersepeda, tidak mandi dulu. 

“Jadi, memangnya kenapa?” Jawab Bundaku disertai pertanyaan.

“Bunda kok mandi dulu?, Supaya segar ya?,” bukannya menjawab aku malah memberi pertanyaan.

“Iya dong,” ucap beliau.

 

Aku dan keluargaku bersiap-siap untuk bersepeda. Mulai dari Ganti baju, memilih masker yang disuka, mengecek sepeda apakah kempes atau tidak bannya, dan menyiapkan minum untuk dibawa. Ayah memiliki dua sepeda yang satu diberi temannya kemarin dengan nama ‘london taxi’, dan yang kedua belum lama juga belinya tapi bukan london taxi. Jadi, ayahku memilih bersepeda menggunakan sepeda barunya (london taxi). Sedangkan aku disuruh memakai sepeda milik ayah yang lama. 

 

Kami mulai mengendarai sepeda masing-masing. Awalnya, kami belum tahu akan kemana bersepedanya. Aku tidak sadar kalau kami menuju Velodrome, baru sadar saat aku melihat velodromenya. 

“Kring, kring…” Bundaku membunyikan bel sepeda, tanda berhenti.

“Masuk velodrome yuk, mumpung belum antri,” ajak Bundaku.

“Yasudah ayo,” jawab ayahku.

Untuk masuk velodrome, para pengunjung akan dicek panasnya. Alhamdulillah, aku dan keluarga dibolehkan masuk. 

 

Sebelum berolahraga, pengunjung diharuskan mencuci tangan. Berhubung ayahku membawa penyanitasi tangan, jadi kami mencuci tangan menggunakan penyanitasi tangan yang ayah bawa. Setelah semua sudah mencuci tangan, kami diperbolehkan berolahraga di dalam velodrome. Tapi, sebelum berolahraga kami berfoto-foto dulu. Setelah foto, barulah kami berolahraga.

 

Setelah beberapa menit keliling-liling velodrome, kami memutuskan pulang karena hari sudah siang dan matahari sudah terbit. Aku senang sekali karena bisa bersepeda bersama keluarga di velodrome.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© 2021 Anbita | Hak cipta dilindungi hukum