Setelah sholat subuh, Ayah bertanya kepada aku dan adik-adikku.

“Mau kerumah Nenek nggak?” tanya Ayah.

“Mauu…” Jawab adikku yang paling kecil. Urusan ke rumah nenek, dia selalu nomor satu.

“Bunda ikut nggak?” tanyaku pada Bunda.

“Enggak, Bunda masih pusing.” Jawab Bunda

Bundaku memang sudah tiga hari pusing. Jadi Beliau tidak ikut ke rumah nenek. Jadi hanya aku, Ayah,  dan kedua adikku.

Setelah itu aku melakukan rutinitas pagiku. Lalu bersiap-siap untuk berangkat kerumah Nenek. Aku memang sedang liburan, jadi daripada tidak kemana-mana, lebih baik aku ikut Ayah

 

Setelah semua siap, kami berangkat. Sebelum masuk tol, Ayah membeli kue untuk Nenek. Setelah itu baru lanjut jalan. Ternyata Om ku ingin ke Jonggol untuk mencari durian. Sekarang memang sedang musim durian, dan semua keluargaku suka durian, kecuali satu Om ku. Aku juga sudah lama tidak makan durian. Jadi Ayah mengajakku ke rumah Nenek agar bisa ikut ke Jonggol.

Sampai dirumah Nenek, semua sudah berkumpul, tapi kami masih menunggu satu Om ku yang masih dalam perjalanan. Sambil menunggu, kami makan dulu agar nanti tidak lapar. Ternyata setelah makan, Om ku belum datang juga, aku memutuskan untuk bermain bersama sepupu-sepupuku dulu. Padahal semua sepupuku masih kecil-kecil. Tapi ada satu sepupuku yang berusia 8 tahun, tidak terlalu jauh jaraknya dengan sepupu-sepupuku yang lain. Adikku juga ada satu yang berusia 11 tahun, jadi aku masih ada sepantaran.

 

Tidak lama kemudian, Om ku datang, kami langsung bersiap-siap dan berangkat. Kami berangkat dengan dua mobil. Satu mobil disetir Ayahku, satu lagi disetir salah satu dari Om ku. Kami berangkat kurang lebih jam 10, perjalanan kami lancar.

Di mobil, aku lanjut bermain dengan sepupuku yang berumur 8 tahun dan adik-adikku. Awal-awal berangkat, kami sangat senang, dengan ekspektasi cepat sampai ke tempat tujuan. Tapi dijalan ada macet sedikit, jadi kami harus menunggu sebentar. Entah kenapa, karena macet aku jadi merasa waktu berputar begitu lama. Aku, adik-adikku, dan para sepupuku sudah mulai gasak-gusuk karena bosan. Aku berkali-kali bertanya pada Ayah sudah sampai belum. Tapi jawaban Ayah selalu sama, belum. Itu semakin membuatku bosan.

 

Setelah sekian lama menunggu sampai di Jonggol, akhirnya kami sampai juga. Tapi belum sampai ke tempat penjual durian, jadi kami belum turun dari mobil. Mobil terus berjalan, dan aku merasa kalau kami akan dibawa ke puncak. Ternyata dugaanku benar, kami memasuki area sawah, lalu terus maju ke hutan-hutan lebat, lalu ke jalanan yang menanjak dan menurun. Kami melewati gunung batu. Lalu kami berhenti dulu sebentar di sebuah jembatan untuk istirahat, ternyata Nenek membawa kue yang Ayah bawa, jadi kami istirahat sambil ngemil kue. Satu hal yang tidak akan pernah dilupakan adalah foto, kami foto sepuasnya dengan latar alam yang indah dan menyegarkan mata.

 

Setelah istirahat selama beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari duren. Setelah menemukan penjual durian, kami turun dan menikmati durian yang sangat enak. Aku sangat suka durian. Apalagi Bundaku, tadi beliau malah meminta dibawakan durian. 

Setelah menikmati durian, kami lanjut jalan untuk pulang. Tapi kami membeli durian di toko lain untuk dibawa pulang. Setelah menemukan toko durian, Ayah, dan para Om ku turun untuk memilih durian. Sementara aku ngobrol dengan Adikku, Sepupuku, juga Tanteku. 

 

Tiba-tiba keluar asap dari mobil Om ku. Semua langsung panik, Nenek, Tanteku, dan sepupuku yang naik di mobil itu langsung turun dari mobil, dan pindah ke mobil Ayah. Sementara Ayah dan semua Om ku memeriksa masalah yang terjadi, sampai membuat mobil keluar asap.

Ayah sudah lama sekali memeriksa mobil Om ku. Masih sibuk memeriksa. Beberapa menit kemudian, Ayah datang dan bilang kalau semuanya pulang duluan. Dua Om ku masih menunggu temannya yang bisa membenarkan mobilnya.

Akhirnya aku sampai ke rumah Nenek. Kata Ayah, teman Om ku sudah datang. Jadi tinggal menunggu mobil diperbaiki, lalu kedua Om ku pulang deh. Di rumah Nenek aku beristirahat sebentar, lalu pulang ke rumahku. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat. Semoga Om ku juga sampai dengan selamat, Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Anbita | Hak cipta dilindungi hukum