Gubrak!!! ….

“Aww, sakit ….” rintih Zio.

“Gara-gara kucing itu tuh. Jadi lecet deh tangan Zio.” dumel Zia, kembaran Zio.

“Pulang aja deh yuk.” ajak Zio sambil menuntun sepeda.

“Iya Kak ….” jawab Zia dengan lesu.

 

Dua saudara kembar umur tujuh tahun itu pun bergegas pulang kerumah mereka. Dirumah, Mama terkejut melihat keadaan dua anaknya yang kotor dan lecet.

“Kalian kenapa?” tanya Mama sambil merapikan sepeda.

“Tadi kami mau main ke taman Ma. Tapi tiba-tiba ada kucing lari, Zio gak lihat ada kucing. Terus Zio rem mendadak, jadi jatuh deh kita berdua. Untungnya kucing itu selamat.” jelas Zio panjang lebar..

“Iya Ma, gara-gara kucing itu kita gak jadi main deh ….” gerutu Zia.

“Yasudah, kan bisa main lagi nanti. Sekarang kalian mandi dulu, badan kalian kotor tuh. Nanti luka Zio Mama obatin ya?” ucap Mama sambil memberi perintah.

“Siap Ma ….” jawab Zia dan Zio bersamaan.

 

Setelah selesai mandi, Zio mencari Mama. Setelah bertemu Mama, anak itu langsung minta tolong diberi obat dibagian tangannya yang lecet. Tapi, Mama bilang obatnya habis. Sedang dibelikan Papa di toko obat. Zio hanya bisa menunggu dengan rasa perih di tangan. Zia yang tidak luka sibuk mencari obat untuk sang kembaran, berharap masih ada sisa obat. Tapi tidak menemukan juga. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Papa pulang.

“Assalamu’alaikum, Papa pulang.” ucap Papa sambil membuka pintu.

“Wa’alaikumsalam Pa!” teriak Zio yang langsung berlari ke arah Papa.

“Tadi Zio jatuh ya?” tanya Papa sambil duduk menyerahkan obat ke Mama.

“Iya Pa, gara-gara kucing.” jawab Zio.

“Kucingnya bikin kita jatuh.” dumel Zia yang kedua kalinya.

“Eh, yang salah bukan kucingnya. Tapi Zio yang tidak lihat jalan. Harusnya kalian kalau bersepeda lihat jalan di depan. Lagipula kucing kan hewan kesayangan Rasul.” jelas Papa.

“Iya ya Pa. Tapi kan tetap aja bikin tanganku sakit nih.” ucap Zio sambil menunjukkan lukanya.

“Kan bisa diobati, itu hanya luka kecil. Zio kan kuat.” kata Papa.

“Sini Mama obati.” pinta Mama.

“Iya Ma.” jawab Zio sambil menyodorkan tanganya.

 

Selesai diobati, Zio dan Zia menonton TV bersama Mama dan Papa mereka. Sambil menikmati bakwan jagung buatan Mama yang lezat. Kebetulan, mereka sedang menonton animasi kucing. Zia mulai tertarik untuk memelihara kucing. Mulai dari tubuhnya yang kecil, mukanya yang imut. Itu semua membuat Zia ingin sekali memelihara kucing. Sementara itu, Zio masih tidak suka dengan kucing. Karena, menurutnya kucing itu hanya hewan yang biasa saja. Tidak lucu dan tidak imut. Zia mulai memberitahu keinginannya pada Mama dan Papa.

“Ma, Pa Zia boleh gak pelihara kucing?” tanya Zia

“Ih, kucing kan udah bikin aku sakit Zi.” ucap Zio tidak mendukung.

“Tapi kan kata Papa bukan kucingnya yang salah. Tapi kamunya yang gak lihat jalan.” jawab Zia sedikit kesal karena Zio tidak mendukungnya.

“Boleh ya Pa ….?” lanjutnya.

“Hmmm, boleh deh. Papa juga suka kucing.” jawab Papa.

“Yeeyy makasih Paa.” sorak Zia.

“Kalau Mama sih boleh-boleh aja. Tapi kamu harus mengurus kucingnya dengan baik ya.” kata Mama.

“Siap Ma ….” ucap Zia.

“Zio mau pelihara kucing juga gak? Biar belinya sekalian.” tanya Mama.

“Aku pikir-pikir dulu ya Ma.” jawab Zio.

“Halah, nanti juga jawabannya mau.” ledek Zia.

“Eeh, sudah-sudah.” ucap Papa memisahkan.

“Oh iya Pa, aku mau kucing persia ya. Yang mukanya gepeng itu loh, boleh kan?” pinta Zia.

“Iya boleh.” jawab Mama sambil tersenyum.

“Yey, terima kasih Ma, Pa.” kata Zia bersorak senang.

“Sama-sama ….” jawab Mama dan Papa berbarengan.

 

Keesokan harinya, keluarga kecil itu ke toko kucing. Zia senang sekali bisa memiliki kucing. Sementara Zio, anak itu masih ragu untuk membeli atau tidak. Akhirnya dia  memutuskan untuk ikut memelihara.

“Umm, Pa aku mau pelihara kucing juga deh.” ucap Zio.

“Tuh kan, benar kata aku. Pasti kamu mau juga.” kata Zia yang mendengar ucapan Zio.

“Sudah-sudah. Zio, kamu harus rawat kucingnya dengan baik ya?” ujar Mama.

“Iya Ma ….” jawab Zio.

“Yasudah, Zio pilih kucingnya dulu.” kata Papa.

“Yey, baik Pa.” jawab Zio dengan senang.

“Papa, Mama … Aku mau yang ini kucingnya.” ucap Zia sambil menunjuk satu kandang berisi seekor kucing perempuan yang lucu.

“Iya, coba kamu kenalan dulu sama dia.” jawab Mama sambil bergurau.

“Ih Mama, mana bisa aku bicara sama kucing ….” Zia sedikit sebal.

 

Tak lama kemudian, Zio berlari ke arah Mama, Papa dan Zia. Dia meminta mereka untuk berjalan ke arah satu kandang kucing yang dipilihnya. Kucing yang dipilih Zio laki-laki. Sama seperti pemiliknya.

“Zio mau yang ini ya Ma, Pa.” ucap Zio.

“Iya Zio.” jawab Mama.

“Yuk bayar dulu. Setelah itu kita pulang deh.”

 

Mereka pun pulang kerumah. Zia dan Zio membawa kucing dan perlengkapan kucing mereka masing-masing. Perasaan mereka sangat senang. Bahkan Zio, yang tadinya ragu menjadi sangat senang setelah dibelikan hewan lucu itu. Kucing Zia berwarna abu-abu. Kucing Zio berwarna oranye dan putih. Di mobil, Zia dan Zio sibuk bermain dengan kucing mereka. Walaupun masih di dalam kandang. 

 

Sesampainya dirumah Mama menyuruh Zia dan Zio untuk memandikan kucing masing-masing. Zia dan Zio berhasil memandikan kucing kesayangannya. Setelah memandikan, mereka menuangkan makanan ke piring kucingnya. Piring kucing Zia berwarna hijau toska, dan Zio berwarna biru muda. Selesai menuangkan makanan, barulah mereka menuangkan pasir ke dalam bak khusus. Bak Zia berwarna abu-abu, sedangkan Zio berwarna hitam. Selepas mengurus kucing, mereka mandi dan membersihkan diri. Sesudah mandi, mereka bermain dengan kucing mereka. Mama dan Papa senang sekali bisa membuat kedua anaknya senang. Apalagi Zia dan Zio, mereka sangat berterima kasih pada Mama dan Papanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© 2021 Anbita | Hak cipta dilindungi hukum