Setelah aku mengikuti lomba pada hari Ahad, aku juga mengikuti pawai, menemani adikku yang paling kecil. Pawai akan dilaksanakan tepat pada 17 Agustus 2022, yaitu hari Rabu.  Waktu aku kecil, tak pernah kulewatkan 17 Agustus tanpa pawai. Aku selalu ikut pawai saat kecil dulu. Setiap aku ikut pawai, pasti aku memakai baju adat tradisional dari berbagai macam daerah. Tapi karena ada pandemi, aku jadi melewatkan Agustusan tanpa pawai. Bahkan tanpa lomba-lomba yang menyenangkan. Agustusan tanpa pawai kurang afdhal menurutku. 😄

 

Pawai akan dilaksanakan setelah zuhur, lebih tepatnya jam 1 siang. Maka dari itu, setelah azan aku langsung melaksanakan sholat zuhur. Setelah itu aku langsung membantu adikku yang paling kecil untuk bersiap-siap. Adikku yang besar tidak ikut, karena dia sakit. Jadi hanya aku, Ayah, dan adikku yang paling kecil yang ikut. Sebenarnya yang ikut hanya adikku, aku hanya menemani bersama Ayah. Adikku baru dua kali mengikuti pawai. Karena saat dia kecil, pandemi sedang parah-parahnya waktu itu. Jadi dia baru dua kali mengikuti pawai, termasuk hari ini. Sedangkan aku sudah berkali-kali ikut pawai.

 

Setelah semua siap, kami berangkat ke kantor RW. Tapi sebelum kami jalan, tiba-tiba ada geluduk.  Sepertinya akan hujan, tapi kami tetap berangkat. Disepanjang perjalanan menuju kantor RW, geluduk mulai banyak, gerimis pun mulai turun. Sesampainya di kantor RW, hujan mulai turun dan menderas. Aku cemas sekali saat itu, takut pawainya dibatalkan. Kasihan sekali anak-anak yang sudah menyewa baju, bertahun-tahun tidak ada pawai. Tapi ternyata tidak dibatalkan. Saat hujan mulai mereda, tiba-tiba ada tiga odong-odong sambung yang membawa sebagian anggota pawai. Ternyata menyewa odong-odong toh, pikirku. Aku kira akan banyak sekali odong-odong, karena peserta pawai banyak sekali. Ternyata hanya tiga, itupun khusus untuk anak-anak tk.

Alhamdulillah hujan cepat berhenti, jadi pawai bisa dilaksanakan dengan normal. Kakak-kakak karang taruna mulai mengatur barisan. Adikku masuk ke barisan Fashion Baju Adat. Barisan paling depan dipimpin oleh ibu-ibu yang bermain drum. Barisan kedua diisi oleh ibu-ibu PKK. Selanjutnya ibu-ibu Jumantik, lalu setelah itu odong-odong. Baru rombongan Fashion baju adat paling belakang. Sebenarnya ada rombongan profesi, tapi aku tidak tahu dibarisan mana. Karena aku di barisan adikku, rombongan paling akhir.

Di rombongan Fashion, banyak sekali aneka ragam pakaian yang dipakai oleh anak-anak yang mengikuti pawai. Ada yang memakai baju bali, jawa, dan banyak sekali daerah lainnya. Bahkan ada yang berpura-pura sebagai penjual sayuran gendong. Adikku berada di barisan paling depan, di rombongan Fashion. Barisan sudah terlihat rapi, satu persatu rombongan mulai bergerak maju, tandanya pawai sudah dimulai. Rombongan kami pun mulai bergerak.

Tapi aku kasihan dengan adikku, dia tidak ada temannya di pawai ini. Sedangkan aku dulu selalu bersama teman mainku, tetangga yang seumuran denganku. Sebenarnya teman Adikku juga ada yang seumuran dengannya, tapi dia tidak ikut. Jadi dia hanya sendiri deh, alhasil sepanjang pawai dia hanya manyun saja. Hahaha. 

Pawai dilakukan seperti biasa, dari kantor RW jalan menuju kelurahan, lalu mutar balik dan kembali lagi ke kantor RW. Dann, aku sudah berkali-kali ikut pawai dari zaman aku orok. Tapi baru pawai kali ini aku tahu ternyata pawai itu dijadikan lomba juga. Aku kemana aja ya dari dulu…🥲

Sesampainya dirumah, aku diberi bingkisan karena sudah ikut pawai. Dari dulu juga seperti ini, setiap pulang dari pawai pasti akan diberi bingkisan. Tapi Adikku yang besar juga dapat jatah bingkisannya, karena dia ikut daftar sebelum sakit. Jadi tetap dapat bingkisan walaupun tidak ikut. Aku senang bisa mengikuti pawai lagi setelah  pandemi ini. Karena kangen rasanya saat-saat aku masih kecil, memilih baju adat yang akan disewa, dandan dengan Eyang, dan ikut pawai bersama teman-temanku. Ingin sekali rasanya kembali ke masa-masa itu. Sayang, waktu tak mungkin berulang bukan? Teman-temanku juga sudah meneruskan sekolahnya masing-masing ke tingkat yang lebih tinggi, begitupun aku. Semenjak itu aku juga sudah jarang sekali main dengan mereka.

 

Pawai kali ini benar-benar meriah, hanya saja Adikku manyun sepanjang pawai. Mungkin karena tidak ada teman. Aku juga baru setengah perjalanan sudah capek. Padahal dulu satu keliling tidak capek. Yaa mungkin karena sudah lama tidak merasakan pawai lagi. Sejujurnya aku sudah mulai malu ikut-ikut pawai seperti itu. Karena aku sudah besar mungkin. Tapi tidak apa-apa, untuk refreshing juga. Menghilangkan stress karena tugas sekolah. Hahaha … 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© 2021 Anbita | Hak cipta dilindungi hukum