Jum’at 24 Juni 2022

“Kak, Senin besok ada bazar nih pas bagi rapor di sekolah Adek. Kalian mau ikut gak?” Tanya Bunda padaku dan adikku.

“Mau Bun..!” Jawabku dan Adikku dengan serempak.

Kebetulan kami punya toko online yang menjual berbagai macam camilan dan emas. Makanya kami mau coba berjualan di bazar, yang bertemu atau bertransaksi langsung dengan pembeli. Sebenarnya kami sudah pernah berjualan di bazar, tapi sudah lama sekali jaraknya. Jadi, mencoba lagi tidak salah kan?

 

“Yaudah, pilih mau produk apa aja yang dijual. Biar gak keburu-buru besok.” Lanjut Bunda.

Aku dan Adikku berdiskusi untuk memilih produk yang akan dijual di bazar, kan gak mungkin dijual semua. Hehe😁

 

Setelah beberapa menit berdiskusi, kami sudah memutuskan beberapa produk yang akan dijual saat bazar nanti yaitu gandum goreng, zanana chips, mr. monkey, keripik maicih, seblak maicih, dan makaroni maicih. Sebenarnya aku kurang sreg akan berjualan di bazar, apalagi hanya aku dan Adikku yang anak-anak. Penjual lain adalah orangtua murid dari siswa SD Adikku. Tapi, berjualan kan bisa dapat uang😂

 

Setelah produknya siap, kami juga menawarkan dari status WhatsApp. Supaya kalau ada yang beli, besok kami bisa antarkan sekalian di bazar. Ternyata orangtua siswa ada yang memesan lewat WA Adikku, karena yang daftar ikut bazar itu Adikku. Jadi mungkin nomornya didapat dari komite sekolah. 

 

Senin 27 Juni 2022

“Kak semuanya udah siap kan? Nanti minta tolong Ayah bawain ke sekolah, kalian naik sepeda aja ya.” Tanya Bunda.

“Iya Bun, udah siap semua.” Jawabku.

 

Pagi ini, aku sudah siap untuk berjualan di bazar, walaupun di hatiku masih ada sedikit rasa malu dan takut tidak ada yang beli dagangan kami. Tapi tidak apa, toh nanti juga akan berdamai dengan suasana bazar, kan?

Ayah sudah jalan duluan saat aku masih sarapan. Tadinya kami mau berangkat bareng tapi Ayah takutnya telat, jadi Ayah berangkat duluan.

Selesai sarapan, aku pamit dengan Bunda,

“Bunda, kakak jalan dulu ya. Assalamu’alaikum …” Seruku dari bawah.

“Iya, Wa’alaikumussalam. Hati-hati ya.” Jawab Bunda.

 

Aku dan Adikku mulai menggowes sepeda kami. Jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh, jadi kami memutuskan naik sepeda. Sesampainya disana, barang-barang kami sudah ada di kursi, jadi kami tinggal menata saja. Tapi saat kami datang, ada orangtu murid yang sedang menggelar mejanya. Aku langsung panik, karena tidak bawa meja sendiri dari rumah. Tapi kemarin saat daftar, adikku diberi tahu kalau mejanya sudah disiapkan dari sekolah. Jadi kami hanya membawa dagangan saja, tidak bawa meja. Karena panik, kami langsung menelpon Bunda agar mejanya bisa tolong dibawakan saat mengambil rapot nanti. Ternyata saat sedang menelpon Bunda, aku lihat mejanya sedang dibawakan dan disusun. Jadi aku tidak perlu minta tolong Bunda untuk membawakan mejanya. Setelah itu, kami mencari nomor meja kami yaitu nomor 8. Kedua dari terakhir. Tapi Alhamdulillah tidak terlalu di pinggir. Setelah menemukan meja, kami menyusun dagangan kami, mulai dari menggelar taplak meja, menyusun dagangannya, menempelkan tulisan agar menarik perhatian pelanggan, dan juga menyiapkan plastik atau kembalian.

 

Beberapa menit kemudian, orangtua murid sudah banyak yang berdatangan untuk mengambil rapor anaknya. Yang berjualan juga sedang merapikan dagangannya. Termasuk aku dan Adikku. Tak lama kemudian, Bunda datang bersama Adikku yang paling kecil. Setelah Bunda memarkirkan motornya, beliau menghampiri meja tempat kami akan berjualan. Bunda membantu merapikan sedikit agar terlihat semua dagangannya. Setelah itu, kami foto-foto 😁. Tak lama setelah foto-foto dan ngobrol sebentar dengan Bunda, Bunda memutuskan untuk segera mengambil rapor Adikku.

 

Sambil menunggu pelanggan datang, aku dan adikku ngobrol sebentar. Ditengah-tengah obrolan, tiba-tiba ada orangtua murid yang melihat-lihat dagangan kami. Langsung saja, kami memulai transaksi. Alhamdulillah dagangan kami sudah ada yang terbeli. Kami sangat senang, karena sudah tidak terlalu malu. Berdagang memang mengasyikkan ya ternyata.

 

Bazar masih terus berlanjut, sampai jam 12.00, satu persatu dagangan kami sudah banyak yang habis. Hingga tak terasa, azan Zuhur terdengar dari masjid dekat sekolah. Kami mulai mengemasi barang yang tidak terbeli. Untungnya sisa dagangan yang tidak terbeli hanya sedikit, kami sangat senang.

Setelah semuanya rapi kembali, aku dan Adikku pulang ke rumah. Kami senang karena bisa mendapat pengalaman lagi berjualan di bazar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© 2021 Anbita | Hak cipta dilindungi hukum